Selasa, 10 Januari 2012

Don't Cry With 18's Number PART I

Sebuah kisah awal seorang gadis remaja yang tengah beranjak dewasa. Ia tumbuh dalam suatu keluarga sederhana , namun banyak kepalsuan di dalamnya. Prbadi yang tergolong hangat ini berubah menjadi pribadi yang pendiam dan mampu terus hidup dalam kebohongan nasib. Gadis tersebut terus berkembang dalam kepalsuan yang terus mengiringi perjalanan hidupnya. Senyum palsu , cerita keluarga harmonis palsu , sampai cerita cinta yang tergolong palsu pula.
Suatu waktu terlihat seorang gadis remaja yang tengah duduk merenung di sudut bangku kamarnya. Ia menatap kosong gambar sosok yang tak asing di pikirnya. Sosok gambar sang ayah dan ibunya tengah berpeluk mesra di hadapnya. Dalam hatinya ia terus bertanya dalam hati ‘Bagaimana bisa mereka hidup bersama dalam suatu perbedaan nyata selama 24 tahun ? Apa itu suatu potret kebohongan besar dari mereka ? ’
Sekejap ia tergugah oleh suatu sapaan hangat dibalik daun pintunya. “Hey gadis , apa yang tengah kau pikirkan di situ ? Dari tadi ku perhatikan kau terus merenung sendiri di ujung kursi itu . Kemarilah ... ceritakan padaku! Aku siap membantumu, sobat ! “
Sekali ini gadis itu hanya tersenyum manis menjawab pertanyaan sahabatnya itu. Ia bingung akan menjawab apa . Ia tak mau membebani hati sang sahabatnya itu. Ia tak tega membebani pikiran sahabatnya yang tengah bahagia dengan pangeran impiannya. Hanya senyum penuh kemunafikan yang ia lontarkan sebagai balasan atas pertanyaan sahabatnya itu. Tak sedikitpun ia mampu menjawab dengan kata – kata jujur di depan sahabatnya.
Gadis itu merasa kesepian di balik keceriaan yang ia bawa setiap harinya di bangku pendidikannya selama ini. Kerinduan akan sosok cinta sejati selalu menjadi dambaan dalam batinnya. Tapi ia terus dan terus berharap walaupun itu mungkin sebuah harapan kosong dalam mimpinya.

Hari terus berganti hari ... bulan terus berganti bulan ... sampai akhirnya semua kisah cintanya dimulai di bulan September. Bulan penuh makna dalam perjalanan hidup gadis remaja tersebut.



September 2009
Sebuah awal cerita cinta ini dimulai . Harapan yang begitu besar ia pikirkan di saat ulangtahunnya genap 17 tahun. Sebuah dering ponsel berdering keras tepat pukul 00.05 dini hari. Senyuman lebar berkembang di wajahnya. Sebuah kata “Selamat ulang tahun guys.” Sapaan manis persis yang ia ucapkan 2 tahun yang lalu. Seorang sahabat atau lebih tepatnya ‘SAHABAT SPECIAL’ mengucapkan selamat ulang tahun kepada gadis itu. Gadis itu tak mampu tidur kembali karna ucapan selamat ulang tahun dari pria berwajah manis yang meneleponnya di seberang. Sempat ia berkhayal tentang masa 2 tahun silam dimana semua masih indah dan suci di masanya.
Keesokan harinya gadis itu bersiap berangkat ke sekolah yang sudah ia kecap salama 2 tahun ini. Sebuah sapaan hangat dari sahabat – sahabatnya mewarnai hari itu. Sejenak gadis itu lupa akan segala masalah yang ia hadapi di kehidupannya sehari – hari . Masalah dalam keluarganya , masalah tentang kehidupannya yang mengenaskan , sampai masalah kehidupan percintaannya yang kelam. Semua itu hilang dalam sekejap dalam pagi yang indah itu.
Malam harinya ia berkutik dengan telepon genggam sederhana di tangannya. Ia membalas semua wall di laman facebook miliknya. Serombongan motor besar tiba – tiba terdengar berhenti di depan rumah gadis itu. Cake coklat beserta kado special menghadang di hadapnya. “Surprise baby....”
Sungguh tak disangka. Sahabat-sahabatnya sewaktu ia duduk di bangku sekolah menengah pertama memberikan pesta kejutan kepada gadis itu. Lengkaplah sudah seluruh kebahagiaannya kala itu. Namun... dalam hatinya ia terus bertanya , “Mengapa Tuhan ... di ulangtahunku kali ini tiada sosok special di sampingku yang mengucapkan selamat ulang tahun kepadaku dan memberikan satu kecupan manis di jidatku ? “
Sebuah perasaan yang tak mungkin lagi ia pendam. Saat itu juga air mata menetes membasuhi pipi merahnya. Perasaan yang rumit bila ia harus membayangkannya *lagi?*Namun sebuah senyuman hangat terus berkembang di wajahnya kala itu , seolah menutup kepalsuan yang slalu ada di wajahnya.

0 komentar: